kita semua punya mimpi. waktu kecil hingga kuliah beberapa dari kita yang punya gambaran mimpi yang jelas, akan punya keinginan tinggi untuk mengejar mimpi itu. sayangnya, as life goes, nggak semua dari kita bisa meraih mimpi itu. mungkin tertunda, mungkin harus melalui beberapa tahap, mungkin juga mimpi kita tidak sesuai dengan kemampuan kita. nah kemampuan disini bisa berarti mental atau materiil. secara mental, mungkin pekerjaan itu tidak pas untuk karakter kita dan mungkin juga kita tidak punya cukup nyali untuk mengejarnya.
saya punya beberapa teman yang ketika lulus memutuskan untuk bekerja mandiri, atau freelance. kalau boleh jujur, saya dulu menganggap mereka cukup idealis dan tidak yakin mereka bisa bertahan dengan hidup yang tidak pasti. namun lama-kelamaan saya bisa melihat kelebihan dari pekerjaan lepas. tentu saja, seperti kata seorang teman yang sangat dekat, kalau seseorang memutuskan untuk freelance, maka dia antara punya orangtua yang bermodal (alias keuangan yang sangat stabil alias penghasilan yang sangat berlebih) atau nekat.
ya, sebagai pekerja kreatif, bekerja lepas mungkin sebuah option yang baik. pertama, we’re our own boss, selain dari bekerja untuk kepuasan klien. tidak dicampuri oleh keinginan atasan (bukan klien). kedua, kita dibayar selayaknya, dibandingkan kerja tetap. namun di sisi lain, ketidakpastian order yang datang adalah resiko yang harus ditanggung. nah, dalam ketidakpastian ini kepada siapa kita bisa berpaling? mereka yang punya orangtua bermodal, adalah yang paling beruntung.
Steve Jobs, CEO dari Pixar, co-founder dari Apple, bilang bahwa kita harus melepaskan dogma yang melekat di pikiran. keluar dari garis aman, dan kejar mimpi kita. Well, I don’t have that kind of luxury. ga ada yang salah sih. Untuk beberapa orang, ada rasa secure yang harus diraih dulu. yaitu pekerjaan tetap. if we have the stable job, then there’s a cash flow, and there’s more money to have, so we can build something. Mereka yang sudah punya modal itu, bisa langsung tancap gas. mereka punya rasa secure itu, maka mereka berani untuk ambil langkah. Read more…